Menggandeng Sejumlah Hotel, Mahasiswa RPL-MBP Jurusan Pariwisata Pengabdian di Desa Wisata Pohsanten

Sebagai salah satu bentuk tridarma perguruan tinggi, pengabdian kepada masyarakat wajib dilakukan perguruan tinggi. Terkait hal ini, Program Studi RPL (Rencana Pembelajaran Lampau) Manajemen Bisnis Pariwisata Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali mengadakan pengabdian kepada masyarakat (PKM) sebagai aksi dan tindak lanjut dari dua bentuk tridarma perguruan tinggi lainnya yaitu pendidikan/pengajaran/pembelajaran dan penelitian ilmiah terapan. Pengabdian dilakukan di Desa Wisata Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Jumat, 28 Mei 2021 sejak pagi hingga sore.

Nilai plus dari pengabdian kali ini adalah terlibatnya kalangan industri perhotelan yang secara saling-mengisi dengan 30-an mahasiswa Program Studi RPL (Rencana Pembelajaran Lampau) Manajemen Bisnis Pariwisata mengadakan workshop, simulasi operasional hospitalitas, dan pembekalan soft skills untuk SDM yang ada, penyerahan sumbangan pohon manggis dan serta penanaman pohon secara simbolis di lahan pertanian hutan produktif Pohsanten. Hotel-hotel berbintang yang terlibat adalah mitra kerja Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali sendiri, yaitu The Apurva Kempinski Bali; Pita Maha Tjampuhan Hotels, Resort and Spa; Ibis Styles hotels, dan The St. Regis Bali Hotels and Resorts.

Ketua Jurusan Pariwisata Prof. Ni Made Ernawati, MATM, Ph.D, menyatakan kegiatan ini merupakan ajang penguatan keterampilan dan profesionalisme desa wisata karena program-progran studi lainnya di Jurusan Pariwisata secara bergantian telah memberikan praktik-praktik pengabdiannya di Pohsanten. Menurutnya, Prodi-prodi lain di jurusannya, yaitu Usaha Perjalanan Wisata, Perhotelan, Manajemen Bisnis Pariwisata (program regular), dan Magister Terapan Perencanaan Pariwisata (Matrappar) sudah lebih dahulu melakukan pengabdian dan berhasil memberikan pembekalan-pembekalan soft skills dan hard skills dari berbagai aspek kedesa-wisataan. Bahkan dari proses pengabdian ini juga telah berhasil diwujudkan satu bangunan fisik berupa mandala pusat kegiatan desa wisata. Dengan itu Ernawati secara jujur menunjukkan apresiasinya terhadap masyarakat desa yang memiliki kesadaran tinggi bagi perlunya meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan pariwisata berbasis potensi yang ada. Diakuinya, “Karena itulah sejak beberapa tahun terakhir, Pohsanten dijadikan semacam living laboratorium bagi Jurusan Pariwisata dalam konteks desa wisata”.

Sementara itu, Dewa Putra Yadnya (The St Regis Bali Resort) wakil dari pihak hotel menyatakan rasa terima kasihnya karena Jurusan Pariwisata menjembatani keberadaan hotel-hotel yang terlibat untuk berinteraksi dengan masyarakat desa. Menurutnya, hal ini merupakan sinergi yang sangat bagus karena industry perhotelan dan perguruan tinggi bisa saling melengkapi dalam hal applied-theoretical dan practical untuk diterapkan secara nyata untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat desa. Dikatakannya, melalui kerja sama dengan perguruan tinggi seperti ini, tampak nyata dan tersusun sistematis apa yang menjadi input, proses, output, dan outcome pengabdian yang dilakukan.

Terbukti, salah seorang anggota masyarakat desa yang merupakan bagian dari SDM desa wisata ini menyatakan rasa syukurnya mendapatkan pengabdian dalam satu “paket komplet”. Rupanya, sharing pelaksanaan kegiatan pengabdian seperti ini menambah keyakinan dan kepercayaan diri SDM di desanya dalam menghadapi bisnis wisata khususnya bila pandemic Covid-19 sudah mereda. “Model-model pengabdian seperti ini perlu diteruskan dan dikembangkan karena masyarakat akhirnya bisa memperoleh banyak hal yang bermanfaat”, ujarnya (Mud).

About the Author

Leave a Reply

*

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

id Bahasa Indonesia
X